Catatan Bibit

Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku yang relatif tetap. Dalam proses ini perubahan tidak terjadi sekaligus tetapi terjadi secara bertahap bergantung pada faktor-faktor pendukung belajar yang memengaruhi siswa. Faktor-faktor ini umumnya dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu faktor internal dan faktor eksternal
Faktor internal berhubungan dengan segala sesuatu yang ada pada diri siswa yang menunjang pembelajaran, seperti inteligensi, bakat, kemampuan motorik pancaindra, dan skema berpikir. Faktor eksternal merupakan segala sesuatu yang berasal dari luar diri siswa yang mengondisikannya dalam pembelajaran, seperti pengalaman, lingkungan sosial, metode belajar-mengajar, strategi belajar-mengajar, fasilitas belajar, dan dedikasi guru. Keberhasilan mencapai suatu tahap hasil belajar memungkinkannya untuk belajar lebih lancar dalam mencapai tahap selanjutnya.
Secara umum prestasi belajar siswa di Indonesia ditentukan oleh kemampuan kognitifnya dalam memahami sebaran materi pelajaran yang telah ditentukan di dalam kurikulum. Soemanto (1984:120-121) menyatakan bahwa tingkah laku kognitif merupakan tindakan mengenal atau memikirkan situasi di mana tingkah laku terjadi. Tingkah laku tergantung pada insight (pengamatan atau pemahaman) terhadap hubungan yang ada dalam situasi. Read the rest of this entry »

Makna leksikal dapat dibedakan menjadi tiga komponen, yaitu: (a) hubungan dengan denotasi, (b) hubungan dengan kategori logik, dan (c) hubungan dengan makna konseptual dan makna konotatif (Maslov, 1987). Masalah penting semantik sinkronik merujuk kepada hubungan makna pusat dan makna pinggiran. Beberapa ahli bahasa menggunakan istilah makna bebas dan makna bersandar.
Struktur semantik setiap perkataan polisemantik merupakan hasil perkembangan yang panjang. Kajian perkembangan ini merupakan masalah utama semantik sejarah dan diakronik. Salah satu hukum umum yang terkenal dalam perkembangan semantik ialah perubahan dari pada bentuk konkret menjadi bentuk abstrak. Dalam tulisan ini akan diberikan beberapa contoh yang terdapat pada bahasa Bulgaria, Rusia, Iran, Greek, dan sebagainya. Read the rest of this entry »

Dalam dunia pendidikan, keberadaan sistem informasi dan komunikasi merupakan salah satu komponen yang tidak dapat dipisahkan dari aktivitas pendidikan. Sebuah lembaga pendidikan harus memiliki komponen–komponen yang diperlukan untuk menjalankan operasional pendidikan, seperti siswa, sarana dan prasarana, struktur organisasi, proses, sumber daya manusia (tenaga pendidik), dan biaya operasi. Sedangkan sistem komunikasi dan informasi terdiri dari komponen–komponen pendukung lembaga pendidikan untuk menyediakan informasi yang dibutuhkan pihak pengambil keputusan saat melakukan aktivitas pendidikan. Pendidikan tidak bisa dilepaskan dari perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi. ICT bukan lagi menjadi asing dalam dunia pendidikan tetapi sudah menjadi penting dan sangat mendukung dalam dunia pendidikan. “Dahulu”, ada guru yang mengajar penggunaan computer, “Sekarang” banyak guru mengajar penggunaan computer, “Nanti”, guru tak perlu mengajar penggunaan computer. Belajar tentang ICT dilakukan dengan sendiri. Belajar bersama guru harus di gabung dengan belajar dengan sumber belajar lainnya, dimanapun, kapanpun, dan siapapun. Bila seorang guru mampu menggunakan ICT sebagai alat dalam mengajar, dan setiap siswa menggunakannya sebagai alat untuk belajar, maka tidak perlu ICT menjadi mata pelajaran dan masuk dalam kurikulum.
Problematika yang dihadapi oleh guru bahasa Indonesia dalam era globalisasi terkait dengan perkembangan ICT sangat krusial. Perkembangan Teknologi informasi dan komunikasi di era globlaisasi saat ini berimplikasi pada pergeseran paradigma dalam sistem pendidikan. Paradigma baru pembelajaran pada era globalisasi memberikan tantangan yang besar bagi guru. Pada era ini dalam melaksanakan profesinya, guru dituntut lebih meningkatkan profesionalitasnya. Menurut para ahli, profesionalisme menekankan kepada penguasaan ilmu pengetahuan atau kemampuan manajemen beserta strategi penerapannya. Guru yang profesional pada dasarnya ditentukan oleh attitudenya yang berarti pada tataran kematangan yang mempersyaratkan keinginan dan kemampuan, baik secara intelektual maupun kondisi fisik yang prima. Read the rest of this entry »

Wacana merupakan unsur kebahasaan yang relatif paling kompleks dan paling lengkap. Satuan pendukung kebahasaanya meliputi fonem, morfem, kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf, hingga karangan utuh. Namun, wacana pada dasarnya juga merupakan unsur bahasa yang bersifat pragmatis. Apalagi pemakaian dan pemahaman wacana dalam komunikasi memerlukan berbagai alat (piranti) yang cukup bamyak. Oleh karena itu, kajian tentang wacana menjadi “wajib” ada dalam proses pembelajaran bahasa. Tujuanya, tidak lain, untuk membekali pemakai bahasa agar dapat memahami dan memakai bahasa dengan baik dan benar.
Kajian wacana berkaitan dengan pemahaman tentang tindakan manusia yang dilakukan dengan bahasa (verbal) dan bukan bahasa (nonverbal). Hal ini menunjukan, bahwa untuk memahami wacana dengan baik dan tepat, diperlukan bekal pengetahuan kebahasaan dan bukan kebahasaan (umum). Pernyataan ini mengisyaratkan, betapa luas ruang lingkup yang harus ditelusuri dalam kajian wacana (Soenjono Dardjowidjodjo,1986:108) lebih-lebih, betapa banyak bekal pengetahuan yang harus disiapkan pembelajar bahasa untuk mengkaji wacana, sementara buku atau penelitian tentang wacana masih sangat kurang. Read the rest of this entry »

Dari sebuah tayangan sinetron, di salah satu televisi swasta, ada dialog yang menarik untuk dicermati. Dialog tersebut adalah sebagai berikut.

A : Apa yang sedang kamu pikirkan?
B : Nggak ada, kok. Aku cuma mikirin peristiwa kemarin.
C : Peristiwa apa kalau aku boleh tahu? Ceritakan semua peristiwa itu.

Dari dialog di atas, ada sebuah kalimat yang menarik untuk dikaji. Kalimat yang dimaksud adalah sebagai berikut.

(1) Ceritakan semua peristiwa itu.

Kalimat (1) terjadi dari verba ceritakan, yang berfungsi sebagai predikat dan nomina semua peristiwa itu, sebagai subjek. Sebelum kita membicarakannya lebih jauh, perhatikan kalimat-kalimat berikut ini.

(2) Lupakan gadis itu.
(3) Lakukan dengan hati-hati.

Pada kalimat (1), (2), dan (3), fungsi persona kedua dilesapkan. Kalimat tersebut sebenarnya berasal dari kalimat yang berikut.

(1a) (Kamu) ceritakan semua peristiwa itu.
(2a) (Kamu) lupakan gadis itu.
(3a) (Kamu) lakukan (pekerjaan itu) dengan hati-hati.

Pada kalimat (1a) (Kamu) ceritakan berfungsi sebagai predikat dan semua peristiwa itu sebagai subjek. Pola yang sama dengan kalimat (1a) terdapat pada kalimat (2a). Berbeda dengan kalimat (1a) dan (2a), pada kalimat (3a) (Kamu) lakukan berfungsi sebagai predikat dan dengan hati-hati sebagai keterangan. Subjek pada kalimat (3a) juga dilesapkan karena penutur menganggap bahwa petutur sudah mengetahui konteks tuturan. Dengan demikian, kalimat (3a) berpola (Persona kedua) P + (subjek) + K.
Perhatikan kembali kalimat (1), (2), dan (3). Apakah kata ganti persona hanya bisa diisi dengan kamu dan tidak bisakah diisi dengan kata ganti persona yang lain? Apakah letak persona kedua itu selalu berada di awal kalimat? Mungkinkah persona kedua berada di tengah atau akhir kalimat? Untuk menjawabnya, perhatikan kalimat berikut. Read the rest of this entry »

Siapa yang tak mengenal Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional? Semua masyarakat Indonesia yang sudah mengenyam bangku sekolah tentu mengenalnya. Apalagi setiap tanggal 2 Mei, selalu diadakan upacara untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional. Tentu pada waktu itu sebagian perjalanan hidup Ki Hajar Dewantara kembali dibacakan, sekedar untuk mengingatkan kita.
Konsep Pengajaran Ki Hadjar Dewantara berfokus pada (1) kepribadian merdeka artinya hidup ini bebas merdeka mengikuti hak asal dan tidak melupakan kewajiban, (2) kemasyarakatan atau kekeluargaan, (3) kebangsaan yang memiliki rasa satu dalam suka, duka, dan dalam mencapai cita-cita dan tujuan bersama, berfaham religius, humanistis, dan kultural, serta berwawasan Bhinneka Tunggal Ika, (4) kebudayaan yang berkembang secara kontinyu, konvergen, dan konsentris (Trikon). Budaya menurut Ki Hadjar selalu berkembang secara terus menerus. Kemudian berpadu dengan budaya asing yang sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia sendiri, yaitu Pancasila. Proses perpaduannya sendiri seperti air dan gula, bukan terpisah seperti air dan minyak. Konsentris berarti mendunia tanpa harus kehilangan ciri khas masing-masing, (5) Perekonomian yang merakyat yaitu bertujuan menyejahterakan dan membahagiakan diri tiap rakyat, seluruh bangsa Indonesia, dan umat manusia sedunia (Mamayu hyuning salira, bangsa, lan manungsa). Perguruan Taman Siswa menjabarkannya dalam pancadarma (5 Bhakti), yakni kodrat alam, kemerdekaan, kebudayaan, kebangsaan, dan kemanusiaan. Read the rest of this entry »

Mengapa dalam kehidupan berbagai anak bangsa terdapat adanya fenomena crossgender, yaitu fenomena silang peran gender, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kehidupan seni pertunjukan. Substansi eksistensial dari kedua gender yang saling melengkapi satu dengan yang lain sepertinya hendak dikoyak dan diberi bentuk lain, sehingga tak terasa kesempurnaan atau relasi selaras antar keduanya sekaitan aspek komplementari satu dengan yang lain, memang kemudian akan terguncang.
Keterguncangan ini, dalam banyak kasus, bisa “kebablasen” dengan laku pribadi pelakunya yang kemudian menjadi bagian dari perilaku kesehariannya.
(Narasi Nartosabdo ini dipetik untuk mengiringi suasana pertapaan Indrakila, di mana Arjuna sedang bertapa dan ditunggui oleh para panakawan yang selalu setia menyertainya; dramatari ini dipentaskan di Hill Auditorium, Ann Arbor Michigan. Oleh Pete Becker, seorang pakar linguistik, beberapa kata dibiarkan tidak diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Di sinilah kemudian, dari pengakuan beberapa penonton, mereka justru mendapatkan nuansa baru, bukan sekedar makna denotatif dari kata per kata semata-mata, namun mereka juga memperoleh makna bunyi bak sebuah mantram yang menyentuh sisi dalam dari penghayatan sebuah proses komunikasi.

Untuk mengunduh dokumen klik di sini.