Catatan Bibit

Relevansi “Konsep Tiga Dinding” Dan Serat Wedhatama Dalam Pengembangan Pendidikan Di Indonesia

Posted on: April 24, 2010

Siapa yang tak mengenal Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional? Semua masyarakat Indonesia yang sudah mengenyam bangku sekolah tentu mengenalnya. Apalagi setiap tanggal 2 Mei, selalu diadakan upacara untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional. Tentu pada waktu itu sebagian perjalanan hidup Ki Hajar Dewantara kembali dibacakan, sekedar untuk mengingatkan kita.
Konsep Pengajaran Ki Hadjar Dewantara berfokus pada (1) kepribadian merdeka artinya hidup ini bebas merdeka mengikuti hak asal dan tidak melupakan kewajiban, (2) kemasyarakatan atau kekeluargaan, (3) kebangsaan yang memiliki rasa satu dalam suka, duka, dan dalam mencapai cita-cita dan tujuan bersama, berfaham religius, humanistis, dan kultural, serta berwawasan Bhinneka Tunggal Ika, (4) kebudayaan yang berkembang secara kontinyu, konvergen, dan konsentris (Trikon). Budaya menurut Ki Hadjar selalu berkembang secara terus menerus. Kemudian berpadu dengan budaya asing yang sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia sendiri, yaitu Pancasila. Proses perpaduannya sendiri seperti air dan gula, bukan terpisah seperti air dan minyak. Konsentris berarti mendunia tanpa harus kehilangan ciri khas masing-masing, (5) Perekonomian yang merakyat yaitu bertujuan menyejahterakan dan membahagiakan diri tiap rakyat, seluruh bangsa Indonesia, dan umat manusia sedunia (Mamayu hyuning salira, bangsa, lan manungsa). Perguruan Taman Siswa menjabarkannya dalam pancadarma (5 Bhakti), yakni kodrat alam, kemerdekaan, kebudayaan, kebangsaan, dan kemanusiaan.
Konsep yang paling terkenal yaitu Ing Ngarsa Sung Tuladha; Ing Madya Mangun Karsa; Tut Wuri Handayani, merupakan ajaran Ki Hajar Dewantara yang begitu popular. Kita mungkin ingat makna dari ungkapan Bapak Pendidikan Nasional tersebut. Guru harus bisa menempatkan diri pada setiap posisi dengan baik. Di depan, sewaktu memimpin, mereka harus memberikan teladan yang baik (Ing Ngarsa Sun Tuladha). Ketika berada di tengah-tengah dia harus bisa menggugah semangat anak didiknya (Ing Madya Mangun Karsa), dan ketika di belakang/mengikuti dia harus menjadi motivator/pendorong semangat anak didiknya (Tut Wuri Handayani). Filosofi tersebut seolah menjadi trilogi kepemimpinan Ki Hajar Dewantara. Semua pihak, tidak hanya guru, diharapkan menerapkan trilogi kepemimpinan tersebut.
Namun demikian, ada lagi ajaran dari Ki Hajar Dewantara yang belum banyak diketahui publik. Ki Hajar Dewantara pernah juga mengajarkan filosofi tentang “Belajar Tiga Dinding”. Maksud ajaran tersebut yakni, para murid di sekolah sebaiknya belajar dalam “ruangan tiga dinding”.
Tiga dinding? Bukankah setiap ruang kelas terdiri dari empat dinding? Tentu perkataan Ki Hajar Dewantara tersebut tidak tepat jika hanya diterjemahkan secara eksplisit. Ada makna yang terkandung di dalamnya. Makna “tiga dinding” itu adalah bahwa ruang kelas tersebut harus ada yang terbuka satu. Hal ini dimaksudkan agar para guru dan siswa bisa melihat pemandangan di luar kelas.
Filosofi tersebut ternyata begitu penting. Konsep pendidikan kita selama ini seolah-olah meletakkan dunia pendidikan di atas menara gading dan tanpa menyentuh realita yang ada. Empat sekat (dinding) tempat para siswa dan guru belajar-mengajar membuat cara berpikir insan cendekia kita terlalu teoritis dan kurang bisa bergaul dengan dunia nyata.
Konsep pendidikan yang kurang memperhatikan realita atau kehidupan nyata membuahkan lulusan yang kurang kompetitif. Kita bias melihat bahwa banyak lulusan perguruan tinggi yang terlalu teoritis sehingga ketika ia kembali ke masyarakat, tidak bisa berbuat banyak. Hal ini dikarenakan selama ini mereka hanya mendapatkan teori saja di bangku kuliah.
Dari kenyataan di atas, “Konsep Tiga Dinding” yang diajarkan Ki Hajar Dewantara tentu menjadi benar adanya. Dengan tiga dinding, maka ada satu dinding yang terbuka dan inilah yang menjadi penghubung dengan dunia luar sekolah. Konsep ini seolah ingin menegaskan sistem pendidikan Link and Match, sistem pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang menggabungkan antara teori dengan praktik.
Sekarang ini konsep tersebut sudah mulai digemari dan diaplikasikan dalam pendidikan. Sekolah-sekolah internasional di Jakarta, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya mulai menggabungkan teori dengan praktik. Bahkan Sekolah Alam di Parung, Bogor mulai mengajarkan peserta didiknya sejak dini untuk berwirausaha. Mereka mencoba untuk menerapkan pengetahuan yang diperolehnya di bangku sekolah dengan dunia praktik dan terkadang pembelajaran tidak dilakukan di dalam kelas, tetapi dilakukan di lapangan (alam nyata) sehingga anak didik bisa lebih memahami teori yang diajarkan.
Melalui “Konsep Tiga Dinding” tersebut seorang guru juga dituntut untuk lebih memahami suatu bidang ilmu sebelum mereka mengajarkan pada peserta didiknya. Mereka tidak hanya menggantungkan diri pada diktat (buku bahan ajaran), tetapi juga dituntut kreativitasnya agar bisa menerapkannya di dunia nyata. Dengan demikian, pendidikan akan terasa lebih nikmat dan menyenangkan. Yang terpenting dari semua itu, institusi pendidikan, yang menerapkan konsep tersebut, bisa menghasilkan lulusan yang berkualitas dan berguna bagi masyarakat serta tidak hanya sekedar mengandalkan teori.

Untuk mengunduh dokumen klik di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: