Catatan Bibit

Kalimat Imperatif Bersufik -KAN

Posted on: April 24, 2010

Dari sebuah tayangan sinetron, di salah satu televisi swasta, ada dialog yang menarik untuk dicermati. Dialog tersebut adalah sebagai berikut.

A : Apa yang sedang kamu pikirkan?
B : Nggak ada, kok. Aku cuma mikirin peristiwa kemarin.
C : Peristiwa apa kalau aku boleh tahu? Ceritakan semua peristiwa itu.

Dari dialog di atas, ada sebuah kalimat yang menarik untuk dikaji. Kalimat yang dimaksud adalah sebagai berikut.

(1) Ceritakan semua peristiwa itu.

Kalimat (1) terjadi dari verba ceritakan, yang berfungsi sebagai predikat dan nomina semua peristiwa itu, sebagai subjek. Sebelum kita membicarakannya lebih jauh, perhatikan kalimat-kalimat berikut ini.

(2) Lupakan gadis itu.
(3) Lakukan dengan hati-hati.

Pada kalimat (1), (2), dan (3), fungsi persona kedua dilesapkan. Kalimat tersebut sebenarnya berasal dari kalimat yang berikut.

(1a) (Kamu) ceritakan semua peristiwa itu.
(2a) (Kamu) lupakan gadis itu.
(3a) (Kamu) lakukan (pekerjaan itu) dengan hati-hati.

Pada kalimat (1a) (Kamu) ceritakan berfungsi sebagai predikat dan semua peristiwa itu sebagai subjek. Pola yang sama dengan kalimat (1a) terdapat pada kalimat (2a). Berbeda dengan kalimat (1a) dan (2a), pada kalimat (3a) (Kamu) lakukan berfungsi sebagai predikat dan dengan hati-hati sebagai keterangan. Subjek pada kalimat (3a) juga dilesapkan karena penutur menganggap bahwa petutur sudah mengetahui konteks tuturan. Dengan demikian, kalimat (3a) berpola (Persona kedua) P + (subjek) + K.
Perhatikan kembali kalimat (1), (2), dan (3). Apakah kata ganti persona hanya bisa diisi dengan kamu dan tidak bisakah diisi dengan kata ganti persona yang lain? Apakah letak persona kedua itu selalu berada di awal kalimat? Mungkinkah persona kedua berada di tengah atau akhir kalimat? Untuk menjawabnya, perhatikan kalimat berikut.

(1b) (Aku) ceritakan semua peristiwa itu.
(1c) (Kami) ceritakan semua peristiwa itu.
(1d) (Kau) ceritakan semua peristiwa itu.
(1e) (Anda) ceritakan semua masalah itu.
(1f) (Saudara) ceritakan semua peristiwa itu.
(1g) (Kalian) ceritakan semua peristiwa itu.
(1h) (Dia) ceritakan semua peristiwa itu.
(1i) (Beliau) ceritakan semua peristiwa itu.
(1j) (Mereka) ceritakan semua peristiwa itu.

Jika kalimat (1a) s.d. (1j) kita cermati, hanya persona kedua, yakni kamu, (eng)kau, Anda, Saudara, dan kalian yang bisa digunakan sebagai persona dalam kalimat imperatif, sedangkan persona pertama, yakni aku, saya, kami, kita dan persona ketiga, yakni dia, beliau, dan mereka tidak dapat digunakan. Hal yang sama berlaku pula untuk kalimat (2) dan (3). Mengapa demikian? Hal itu terjadi karena kalimat imperatif menghendaki lawan bicara (petutur) untuk melakukan sesuatu yang diharapkan oleh pembicara (penutur). Artinya, jika kita berbicara, orang yang kita ajak berbicara disebut sebagai orang kedua (persona kedua). Sangat tidak masuk akal jika kita memerintahkan sesuatu kepada orang yang tidak kita ajak berbicara atau bukan lawan bicara kita. Oleh sebab itu, kekosongan persona pada kalimat (1), (2), dan (3) hanya bisa diisi oleh persona kedua, seperti kamu, (eng)kau, Anda, Saudara, dan kalian, bukan persona pertama, misalnya aku, kami, dan kita, atau persona ketiga, seperti dia, beliau, kalian, dan mereka. Dengan demikian, kalimat yang menggunakan persona pertama, seperti kalimat (1b dan (1c) bukanlah kalimat imperatif, melainkan kalimat deklaratif. Demikian pula dengan kalimat (1h), (1i), dan (1j) yang menggunakan persona ketiga.

Untuk mengunduh dokumen klik di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: