Catatan Bibit

Makna Leksikal Dari Sudut Pandang Sinkronik Dan Diakronik

Posted on: April 24, 2010

Makna leksikal dapat dibedakan menjadi tiga komponen, yaitu: (a) hubungan dengan denotasi, (b) hubungan dengan kategori logik, dan (c) hubungan dengan makna konseptual dan makna konotatif (Maslov, 1987). Masalah penting semantik sinkronik merujuk kepada hubungan makna pusat dan makna pinggiran. Beberapa ahli bahasa menggunakan istilah makna bebas dan makna bersandar.
Struktur semantik setiap perkataan polisemantik merupakan hasil perkembangan yang panjang. Kajian perkembangan ini merupakan masalah utama semantik sejarah dan diakronik. Salah satu hukum umum yang terkenal dalam perkembangan semantik ialah perubahan dari pada bentuk konkret menjadi bentuk abstrak. Dalam tulisan ini akan diberikan beberapa contoh yang terdapat pada bahasa Bulgaria, Rusia, Iran, Greek, dan sebagainya.
Teori Ferdinand de Saussure penting secara asasi bagi perkembangaan semantik. Pertama karena adanya konsepsi tentang tanda linguistik. Makna merupakan ramuan yang perlu bagi tanda linguistik, signifie lawan ‘auditif atau akustik imej’, yaitu signifiant. Terdapat beberapa definisi tentang makna yang berbeda-beda, tetapi Saussure tidak boleh diabaikan. Satu lagi sumbangan teori linguistik Saussure yang merujuk kepada pertimbangan bahasa dari sudut pandang sinkronik dan diakronik. Kesahihan dikotomi ini dapat diterapkan untuk semua bidang cakupan bahasa, termasuk bidang cakupan semantik.
Masalah berikut – yang telah diselidiki secara intensif oleh ahli bahasa, ahli psikologi, dan ahli falsafah – dapat digolongkan ke dalam bidang cakupan sinkronik, yaitu:
(1). sifat makna sebagai fenomena linguistik dan hubungannya dengan konsep sebagai kategori logikal,
(2). hubungan antara makna leksikal dan makna struktural (atau tatabahasa); makna leksikal dan rujukan dalam masalah kata nama, kata kerja, kata sifat, adverba, (yang dinamakan offeneklasse ’kelas terbuka’) dan dalam masalah makna struktural yang dikaitkan dengan kelas tertutup kategori tatabahasa dan hubungan (kasus, modus, aspek, bandingan, dan sebagainya)’
(3). hubungan semantik perkataan dengan semantik kalimat,
(4). kategori semantik dalam rangka kerja morfosintaksis, dan
(5). masalah polisemi dan perkataan.
Topik tulisan ini terbatas pada makna leksikal. Terdapat banyak definisi tentang mana leksikal, namun pada tulisan ini kami menggunakan definisi yang diungkapkan oleh Maslov seorang ahli bahasa yang berasal dari Soviet. Maslov (1987: 90) mengatakan bahwa makna leksikal adalah rujukan terhadap satu kandungan tertentu, yang spesifik bagi satu perkataan, yang memiliki perbedaan dengan semua perkataan lain. Seperti yang kita ketahui, makna leksikal biasanya merupakan sarana dalam semua bentuk tatabahasa (dalam semua aloleks) perkataan termasuk bentuk analitis atau deskriptif, yaitu ia tergolong dalam leksem.
Menurut Maslov (1987: 91) kita dapat membedakan tiga komponen dalam makna leksikal:
(1) Hubungan dengan denotasi. Inilah yang dinamakan rujukan objek perkataan
(2) Hubungan dengan kategori logik, terutama dengan konsep, yaitu rujukan Konsep.
(3) Hubungan dengan makna konseptual dan makna konotatif perkataan lain dalam rangka kerja sistem leksikal yang sepadan.
Suatu masalah penting semantik sinkronik memperkatakan hubungan makna pokok (asas) dan makna skunder tambahan yang sisian (pinggiran). Hjelmslev (1961: 28) menduga bahwa tidak ada tanda yang memunyai makna “dalam pengasingan mutlak”. Selanjutnya Hjemslev mengatakan bahwa makna pada mulanya berasal dari konteks situasi atau konteks eksplisit. Pandangan yang bertentangan dipegang oleh kebanyakan ahli bahasa, yaitu bahwa perkataan mempunyai makna teras atau makna asas dalam sistem bahasa yang bebas dari konteks. Seperti yang diungkapkan oleh Kurylowicz (1955), Pike (1960), Harmann (1965), Ullman (1967), Brekle (1972), Maslov (1987: 102 – 103) berbicara tentang makna bebas perkataan dan makna bersandar, dengan makna yang kemudian terjadi dalam teks. Analisis ini nampaknya mencerminkan hakikat yang sebenarnya. Sebagai contoh, jika kita mendengar perkataan Inggris apple, street, go, window di luar teks, kita dapat menentukan makna leksikal masing-masing kata tanpa ragu-ragu, yang berupa makna asas (pokok). Bagaimanapun ada suatu permasalahan apabila makna perkataan Inggris tidak dapat dipahami tanpa konteks. Misalnya, green (adj. atau Subst) ketimbang perkataan Rusia zel’onyj “green”, yang berautonomi dari segi semantik.
Struktur semantik perkataan, yang kita boleh katakan sebagai semen, mewakili kuantitas makna (alosem), makna asas dan makna sebilangan makna terbitan. Semen sepadan dengan leksem sebagai mikrokosmos pada paksi paradigma. Dalam parole, semen direalisasikan bersama-sama alosem. Uraian semen tergolong dalam semantik sinkronik. Satu kaidah uuraian adalah analisis komponen yang didasarkan pada prinsip logik. Kaidah huraian semen belum lagi digunakan dalam kamus.
Struktur semantik setiap perkataan polisemantik merupakan hasil perkembangan yang panjang, yang melewati beberapa abad. Kajian perkembangan ini merupakan tugas utama semantik sejarah, atau kajian perubahan makna mengikut masa. Dalam peristilahan Saussure ini dinamakan semantik diakronik. Sebenarnya semantik diakronik berkaitan dengan perkembangan semen perkataan individu. Semantik sejarah berkaitan dengan perkembangan subsistem semantik.
Adalah menakjubkan bahwa istilah semantik pertama kali digunakan untuk merujuk kepada perkembangan dan perubahan makna. Di sini saya ingin memperlihatkan masalah penting semantik sejarah hubungannya dengan linguistik umum: adakah terdapat hukum-hukum umum dalam perkembangan semantik atau tidak? Ia merupakan perkara remeh untuk menyebutkan perubahan makna dari makna konkret ke makna abstrak. Sebagai contoh bahasa Bulgaria griza “care”, dari pada griz’a “nibble”; bahasa Iran Kuno suxra “red” memberikan akar suk-“fire'; to burn (Abaev, 1956: 292); Bulgaria Kuno goresti “bitterness”, bahasa Bulgaria gorest “sorrow” kepada akar gor-dalam bahasa Bulgaria Kuno ,goresti to burn”, dan akar yang sama dalam bahasa Bulgaria gorak “bitter”, bahasa Rusia gor’kij, bahasa Serbo-Cr. gorak. Dalam bahasa Bulgaria gorak juga bermaksud “misereble, por, unfortunate”, Osset. arf
“deep” kepada Iran Kuno *apra- dari pada ap- “water”, dengan itu “depth” (“water depth”; bahasa Rusia krutoj “steep” kepada Lit. krantas “river bank” (Abaev, 1956 : 292). Contoh-contoh ini juga menunjukan kepada kekoherenan sempit antara semantik diakronik dengan etimologi. Salah satu tugas etimologi adalah untuk menemukan sufat yang bertindak sebagai kelahiran sesuatu perkataan, yaitu apa yang dinamakan makna etimologi (dalam peristilahan golongan Neogramarian dieinnere Form). Sebagai contoh, lit. karve “caw”, Bulgaria Kuno krava Bulgaria krava, “caw”, bahasa Poland Kuno karw (krwo-s) “old ox” mengandungi akar I.E. *ker- “upper part of the body; head; horn; summit”. Antara makna terbina semula ini kita menemukan “horn” dan dari pada itu kita sampai kepada “caw”, “old ox” atau “stag”, hewan bertanduk (bahasa Jerman gehornte Tiere). Bandingkan bahasa Greek keras “horn” dan keraos “with horns”.

Untuk mengunduh dokumen klik di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: